AKSELERASI DAN MOMENTUM HIJRAH H. AHMAD ALI DAN JOKOWI KE PSI DALAM MENYELARASKAN SPIRITUALITAS UNTUK INKLUSIFITAS DAKWAH KEBANGSAAN

Politik 19 Jun 2026 23:03 4 min read 17 views By Maulana Maududi
AKSELERASI DAN MOMENTUM HIJRAH H. AHMAD ALI DAN JOKOWI KE PSI DALAM MENYELARASKAN SPIRITUALITAS UNTUK INKLUSIFITAS DAKWAH KEBANGSAAN
Karena dengan hijrahnya pentolan NASDEM tersebut dipandang sebagai bagian dari perluasan gerbong politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo di dalam tubuh partai yang dipimpin oleh Kaesang Pangarep. Sehingga dinamika ini dipandang sebagai bentuk strategi individu untuk beradaptasi dengan peta politik baru yang lebih kompetitif jelang Pemilu 2029.

Oleh : Maulana Maududi

(Pemimpin Redaksi Solidaritas Times dan Ketua Umum DPP Solidaritas Dakwah Kebangsaan)

Ketika gonjang ganjing dari berbagai pihak yang memperbincangkan hingga mendebat langkah H Ahmad Ali yang terakhir sebelum hijrah ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dikenal sebagai tokoh nasional bernaung di jajaran Partai Nasdem hingga sempat menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Nasdem bahkan berada di posisi Ketua Fraksi Partai Nasdem DPR RI periode lalu, ternyata menjadi daya tarik yang menjadi magnet utama, betapa besarnya pengaruh seorang H Ahmad Ali bersama gerbingnya di kancah perpolitikan negeri ini. 

Maka makna hijrah bagi politikus H. Ahmad Ali dari Partai NasDem ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dapat dikatakan sebagai dimensi strategis utama. Diantaranya adalah sebagai magnet Elektoral dan Jaringan Politik. Kehadiran Ahmad Ali sebagai Ketua Harian DPP PSI dimaknai sebagai upaya mendongkrak mesin politik PSI. Pengalamannya diharapkan mampu menarik dukungan elite daerah dan mengamankan ambang batas parlemen untuk Pemilu 2029.

Lalu pergeseran loyalitas dan dinamika internal. Perpindahan ini menandai babak baru setelah relasinya dengan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, merenggang. Langkah ini memberikan Ahmad Ali rumah baru untuk menyalurkan garis perjuangan politiknya secara total. Dan tak kalah pentingnya adalah bagaimana kemudian konsolidasi kekuatan Jokowi menjadi sebuah keniscayaan. 

Karena dengan hijrahnya pentolan NasDem tersebut dipandang sebagai bagian dari perluasan gerbong politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo di dalam tubuh partai yang dipimpin oleh Kaesang Pangarep. Sehingga dinamika ini dipandang sebagai bentuk strategi individu untuk beradaptasi dengan peta politik baru yang lebih kompetitif jelang Pemilu 2029.

Berbanding searah, kepindahan atau "hijrah" politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menandai babak baru dalam peta politik nasional. Langkah ini sarat akan makna strategis, baik bagi masa depan PSI maupun bagi manuver politik Jokowi pasca-pemerintahan.

Makna utama di balik langkah politik Jokowi merapat ke PSI dengan penegasan akhir status di PDIP. Dengan bergabungnya Jokowi ke PSI mempertegas posisinya yang secara politik telah berpisah dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Hal ini mengakhiri kebingungan publik mengenai status kaderisasinya.

Posisi strategis sebagai Dewan Pembina kepada Jokowi diproyeksikan akan mengemban jabatan penting sebagai Ketua Dewan Pembina PSI akan memberikan kekuatan penuh baginya untuk mengarahkan haluan dan strategi partai tanpa harus menjabat sebagai Ketua Umum. Juga Magnet Elektoral (Efek Jokowi) dengan kehadiran Jokowi menjadi daya tarik utama (magnet) bagi politisi senior dan tokoh nasional lain untuk turut bergabung dan berhijrah ke PSI. 

Pengaruh ini diharapkan mampu mendongkrak perolehan suara PSI untuk lolos ke DPR pada Pemilu 2029. Dan menjadi amunisi baru bagi PSI untuk menghadapi Pemilu mendatang, sebab PSI sangat membutuhkan figur sentral yang dapat menyatukan kekuatan dan memberikan dampak elektoral secara masif, mengingat PSI dipimpin oleh putra bungsunya, Kaesang Pangarep.

HIJRAH, INKUSIFITAS DAN DAKWAH KEBANGSAAN 

Memaknai hijrah bukan sekadar perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah, melainkan transformasi moral dan sosial. Dalam konteks kebangsaan, hijrah adalah momentum menyelaraskan spiritualitas dengan solidaritas sosial, merajut persaudaraan kemanusiaan, serta membangun tata kelola bangsa yang berkeadilan di tengah keberagaman Indonesia.

Pilar-pilar penting dalam memaknai hijrah untuk solidaritas dakwah kebangsaan yang diusung H Ahmad Ali dan Jokowi adalah dengan penguatan Transformasi Dari Ego Menuju Umat (Inklusivitas). Semangat hijrah mengajarkan kita untuk meninggalkan sikap primordial atau kelompok sempit (ashabiyah). Bagi H Ahmad Ali dan Jojowi, dakwah kebangsaan harus memayungi seluruh elemen masyarakat, mengedepankan nilai toleransi, dan menolak narasi yang memecah belah persatuan.

Maka sebuah alur cerita besar bagi H Ahmad Ali khususnya dalam menguatkan rangkaian strategis efek Jokowi yang juga dikenal sebagai tokoh kharismatik yang memperjuangkan kepentingan umat Islam secara spesifik dengan merajut Ukhuwah Wathaniyah (Persaudaraan Bangsa). Adalah Rasulullah SAW mencontohkan pembentukan Piagam Madinah, menyatukan kaum Muhajirin, Anshar, dan berbagai suku non-muslim dalam satu tatanan sosial yang harmonis. Hijrah mengajarkan umat Islam untuk menjadi perekat persatuan bangsa dan garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI. Dan hijrah menuju keadilan dan integritas adalah keberlanjutan momentum yang harus menjadi alarm untuk bertransformasi dari praktik-praktik yang merugikan masyarakat—seperti korupsi dan penyalahgunaan wewenang—menuju tata kelola yang lebih transparan dan berorientasi pada pelayanan publik yang harus diberdayakan H Ahmad Ali Cs.

Adapun kemudian tak kalah pentingnya bagi H Ahmad Ali dalam memainkan peranannya adalah Dakwah Solutif dan Berkeadaban. Dakwah tidak sekadar menyampaikan pesan moral di mimbar, tetapi juga aksi nyata. Solidaritas dakwah harus menyasar pengentasan kemiskinan, perluasan akses pendidikan, dan penciptaan keadilan ekonomi agar manfaatnya dirasakan oleh seluruh rakyat melalui sepak terjangnya sebagai Ketua Harian PSI dengan mengkolaborasikan kekuatan Efek Jokowi ansich. 

Jakarta, 16 Juni 2026